Manusia Tolak Evolusi


Manusia itu apaan, sih? Emangnya apa yang bikin spesies satu ini spesial banget? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benakku seharian ini. Apakah manusia itu termasuk binatang? Apakah manusia tetap terus ber-evolusi, atau sudah berhenti? Kini, kucoba cari sedikit jawabannya dari berbagai referensi. Sebuah penafian: aku menulisnya dengan pemahamanku yang terbatas sebagai non-siswa biologi. Masukan di sana-sini sangat diharapkan.

Apa itu manusia?

Manusia, merujuk pada Homo sapiens, termasuk dalam kingdom Animalia. Carolus Linnaeus, pada bukunya “In Systema Naturæ” (1735, 1758), mengajukkan definisi atas Kingdom Animalia: natural objects that grow, live, and sense. Jauh setelahnya (1990), three-domain system dikemukakan oleh Carl Woese, Otto Kandler, dan Mark Wheelis.

… To remedy this situation we propose that a formal system of organisms be
established in which above the level of kingdom there exists a new taxon called a “domain.”

Life on this planet would then be seen as comprising three domains, the Bacteria, the Archaea, and the Eucarya, each containing two or more kingdoms.

(The Eucarya, for example, contain Animalia, Plantae, Fungi, and a number of others yet to be defined.) …

Berikut adalah gambaran singkat mengenai tiga domain kehidupan:

Tiga domain kehidupan, sebagaimana diilustrasikan oleh Campbell di bukunya.
Ilustrasi sel eukariotik, sebagaimana diilustrasikan oleh Campbell di bukunya.

Binatang, atau anggota Kingdom Animalia, meliputi eukariota-eukariota multiseluler yang memakan organisme-organisme lain. Organisme adalah entity capable of carrying on life functions. Eukariota adalah a single-celled or multicellular organism comprised of eukaryotic cells. Sel adalah an organism’s basic unit of structure and function. Sel-sel eukariotik adalah cells with a nucleus. Nukleus adalah inti sel yang berisi DNA. DNA adalah suatu bentuk materi genetik. DNA terdiri atas ratusan atau ribuan gen-gen. Gen adalah the units of inheritance yang berisi resep pembuatan protein. DNA tersusun atas polinukleotida atau asam nukleat. Asam nukleat adalah makro-biomolekul yang terdiri atas nukleotida-nukleotida. Nukleotida merupakan monomer atau satuan terkecil dari asam nukleat. Nukleotida terdiri atas basa nitrogen Adenin (A), Sitosin (C), Guanin (G), dan Timin (T); gugus fosfat; dan gula deoksiribosa.

Ilustrasi nukleotida-gen-DNA-kromosom. Sumber gambar.


Dengan definisi keilmuan biologi tersebut, maka manusia juga termasuk dalam klasifikasi hewan atau binatang (anggota kingdom Animalia). Hal ini jelas karena manusia terdiri atas sel-sel eukariotik dan memakan organisme-organisme lain untuk bertahan hidup. Menurutku, sudah bukan saatnya lagi kita ribut berselisih paham mengenai apakah manusia itu masuk ke klasifikasi binatang atau tidak. Jika memakai keilmuan biologi sebagai acuan, tentu mau-tidak-mau kita harus menerima bahwa manusia, secara definisi, termasuk binatang.

Pada ribut-ribut mendatang, alih-alih menolak manusia-sebagai-binatang, lebih menarik jika kita membahas apa yang benar-benar membedakan manusia dari binatang-binatang lainnya. Seperti ini, oke, manusia kan udah binatang, nih, terus apa sih yang bedain kita dari binatang-binatang lainnya? Menurutku, pada akhirnya, cara kita memaknai kehidupan kita sebagai manusia jauh melampaui persoalan klasifikasi saja. Kalau manusia memang termasuk dalam klasifikasi binatang, memangnya kenapa? Mengapa kita cenderung melihat klasifikasi binatang sebagai suatu klasifikasi yang rendah sehingga berdampak pada keengganan kita untuk masuk ke dalam klasifikasi tersebut?

Pembeda Manusia


The Cambridge Dictionary mendefinisikan consciousness sebagai “the state of understanding and realizing something.The Oxford Living Dictionary mendefinisikan consciousness sebagai “The state of being aware of and responsive to one’s surroundings.“, “A person’s awareness or perception of something.” dan “The fact of awareness by the mind of itself and the world.

Dilansir dari

Consciousness is everything you experience. It is the tune stuck in your head, the sweetness of chocolate mousse, the throbbing pain of a toothache, the fierce love for your child and the bitter knowledge that eventually all feelings will end.

Anil Seth pada artikelnya di NewScientist menyatakan:

Consciousness is, for each of us, all there is: the world, the self, everything. But consciousness is also subjective and difficult to define. The closest we have to a consensus definition is that consciousness is “something it is like to be”. There is something it is like to be me or you – but presumably there is nothing it is like to be a table or an iPhone.

Menurut Srivas Chennu di University of Cambridge research,,

“Being conscious not only means being awake, but also being able to notice and experience,” he explains. “When someone is conscious, there are patterns of synchronised neural activity arcing across the brain that can be detected using EEG and quantified with our software.”

Merujuk ke The Cambridge Declaration on Consciousness:

We declare the following: “The absence of a neocortex does not appear to preclude an organism from experiencing affective states. Convergent evidence indicates that non-human animals have the neuroanatomical, neurochemical, and neurophysiological substrates of conscious states along with the capacity to exhibit intentional behaviors.

Consequently, the weight of evidence indicates that humans are not unique in possessing the neurological substrates that generate consciousness. Non-human animals, including all mammals and birds, and many other creatures, including octopuses, also possess these neurological substrates.”

David Robson, pada artikelnya di NewScientist menyatakan demikian.

Many animals exhibit behaviours similarly suggestive of an inner life. Conscious creatures may include our primate cousins, cetaceans and corvids – and potentially many invertebrates, including bees, spiders and cephalopods such as octopuses, cuttlefish and squid. The challenge, of course, is to understand how the inner lives of these creatures differ from our own.

Perihal kesadaran, yang bahkan masih menjadi perdebatan hingga sekarang, apakah binatang nonmanusia juga sudah bisa disebut memiliki kesadaran?


Kenapa manusia ini kok kayaknya beda? Apakah karena rasionalitas? Terus, meskipun punya rasionalitas, apakah manusia tetap binatang?

Hadirnya Rasionalitas di Binatang Nonmanusia

Dirujuk dari paper karya Cameron Buckner,

In this paper, I aim to establish the lowest bounds of rational inference, arguing that many (though not all) of these opaque judgments in nonlinguistic animals should be counted as inferential. To clarify, there is a trivial sense of ‘inference’, common in cognitive psychology, on which any information processing counts as inferential; this is not the sense of inference explored here.

This more philosophical notion begins instead with the idea that, at minimum, rational inference (hereafter, just ‘inference’) is the mental process of arriving at a conclusion on the basis of reasons which support it.

Theoretical inference involves the process of arriving at one belief on the basis of others; for example: Fluffy is a cat, all cats love liver, therefore Fluffy loves liver.

Practical inference, on which I shall focus here, involves instead the selection of an action to perform on the basis of beliefs and desires; for example: Fluffy desires to jump on the counter, Fluffy believes—after sufficient crouching and wiggling—that leaping from the top of the chair will land her on the countertop…so straightaway Fluffy leaps.

Pertimbangan Gajah dan Jerapah

To consider another example, elephants form matriarchal groups, where herd-mates follow the lead of one of the eldest females, especially when evaluating threats (McComb et al 2001).

  • Matriarchal elephants in Kenya’s Amboseli National Park were able to determine the threat level of human intruders by differentiating ethnicity, gender and age, suggesting an understanding that adult Maasai tribesmen sometimes kill elephants in competition for grazing or in retaliation for attacks against humans, while Kamba tribesmen and women and children from both tribes don’t pose a threat.
  • Giraffes are not generally considered prey by lions in Africa, due to the long-necked animals’ ability to deliver skull-crushing kicks. Lions in South Africa’s Selous Game Reserve, however, are reported to have learned that giraffes found in a sandy river bed can get stuck and even trip, making them suitable prey.

Rujukan dari ScienceDaily.

Previous studies have shown that animals can remember specific events, use tools and solve problems. But exactly what that means remains a matter of scientific dispute. Now one researcher suggests the evidence shows a wide range of animal species exhibit so-called ‘executive control’ when it comes to making decisions, consciously considering their goals and ways to satisfy those goals before acting.


Kita seringkali berpikir bahwa manusia bukanlah binatang karena manusia memiliki rasionalitas. Manusia, kan, bisa pakai logika dan bisa bernalar! Jadi bukan hewan lah! Akan tetapi, definisi hewan atau binatang secara biologis tidak membicarakan rasionalitas. Definisi biologis binatang lebih menitikberatkan pada ranah materi: sel eukariotik dan cara kerjanya. Rasionalitas berbicara di ranah nonmateri, lebih tepatnya pada realitas subjektif makhluk (qualia). Dengan demikian, manusia tetap saja termasuk dalam klasifikasi binatang entah punya atau tidak punya rasionalitas.

Anggaplah, misalnya, dari sekian banyak makhluk hidup di dunia ini, hanya manusia lah yang memiliki rasionalitas, lalu apakah lantas manusia menjadi bukan-binatang? Ya, tetap tidak! Jika manusia memiliki rasionalitas sebagai keunikannya, hal tersebut senada dengan seekor anjing yang memiliki gonggongan sebagai keunikannya atau seekor kaki seribu dengan kakinya yang konon berjumlah seribu. Keunikan suatu spesies tidak lantas menjadikannya keluar dari klasifikasi binatang yang bertumpu pada susunan sel eukariotik tadi. Ada atau tidaknya keunikan-keunikan tersebut, kalau mereka memenuhi definisi, maka mereka tetap termasuk binatang.

Filsafat Islam


Aku juga menyadari klasifikasi berbeda yang didasarkan pada definisi berbeda atas manusia dan binatang. Selain itu, aku juga menyadari perbedaan pernyataan kedudukan antara manusia dan binatang nonmanusia pada beberapa pemikiran. Filsafat Islam, misalnya, membedakan manusia (human) dan binatang (non-human animals) dengan basis akal.

Al-Ṭabarī still maintains that humans have certain things in which other animals do not have a share: reason (ʿaql) and understanding (fahm) (Ṭ5:186).

In his opinion, however, these privileges do not serve to elevate the status of humans, but rather to increase their responsibilities; these features make it more incumbent upon humans to be thankful to God and to acknowledge their obligations toward Him.

Dikutip dari jurnal berjudul “The Intertwined Relationship Between The Naffs (Carnal Soul), Aql (Reasoning), and Qalb (Heart)” tulisan Hyder Gulam:

Aql means intellect (Tritton, 1971, p. 494), the ability to think or the place where knowledge develops and grows (N. S. M. Akhir), or reason (Fethullah Gulen). According to Al-Ghazali (Akhir, 2006, p. 224), every human is born with aql, which is a native, instinctive intellect. … The aql is the distinguishing feature of man from animal, which urges the rightly guided person to reflect, ponder and study (tafakkur) the signs of creation and the universe (N. S. M. Akhir).


Apakah dābba berarti “binatang” (mencakupi manusia) atau “binatang nonmanusia?” (p.167-168). Richard Foltz berpendapat bahwa dābba hanya merujuk ke binatang non-manusia (binatang pada umumnya). Herbert Eisenstein berpendapat sama dengan Richard Foltz. Pendapatnya mengimplikasikan bahwa teks-teks Islamik tidak menganggap manusia sebagai bagian dari dunia binatang. Kendati perbedaan pendapat, kata dābba biasanya digunakan untuk merujuk nonhuman earthly animals only (binatang-binatang dunia selain manusia saja).

Ibn Manzūr berpendapat bahwa dābba meliputi segala binatang, termasuk manusia. Al-Rāghib al-Isfahānī (d. 502/1108) juga berpendapat bahwa dābba merujuk ke semua binatang, meskipun secara konvensional seringkali merujuk ke kuda secara khusus. Ibn Manzūr, mengutip QS 24:45, menyatakan:

God has created every dābba of water. Among them is he who moves upon his belly (minhum man yamshī ‘alā baṭnihi), and among them is he who moves on two legs (wa-minhum man yamshī ‘alā rijlayn), and among them is he who moves on four [legs] (wa-minhum man yamshī ‘alā arba’).

Didasarkan pada penggunaan partikel minhum (plural untuk manusia) bukan minhā atau minhunna (plural untuk nonmanusia), Ibn Manzūr menyimpulkan bahwa ayat tersebut mengarah ke spesies rational (manusia) dan non-rational (nonmanusia).

Di esainya yang lain, Sarra Tlili menyatakan bahwa selain spesies nonmanusia (binatang), kata dābba juga mencakup manusia, jinn, malaikat, dan kemungkinan tipe makhluk-makhluk lain yang tidak kita ketahui. Dābba merujuk ke segala makhluk yang dapat bergerak dengan niat.

Pandangan-pandangan Qur’an lainnya mengenai binatang (p.70):

  • Everything God has created is for humankind (2/ al-Baqara: 29), it unambiguously permits humans to hunt (certain) animals and to consume the meat of a certain number of animal species. It also allows humans to use some nonhuman animals in other ways, all of which point to these animals’ servility to humans and persumably to their lower status.
  • The phenomenon of maskh, the metamorphosis of some humans into certain nonhuman species as a means of punishment (2/al-Baqara: 65; 5/al-Mā’ida:60; 7/al-A’rāf: 166), can lead to the same conclusion.

Filsafat Buddhisme

Artikel khusus mengenai filsafat Buddhisme mengenai tiracchana (hewan) dan manussa (manusia) akan segera ditulis terpisah dan ditautkan ke artikel ini.

Keunikan Kita Sejauh Ini

Dilansir dari BBC Future, kemampuan berbahasa dan kemampuan sosial:

Somehow, our language-learning abilities were gradually “switched on”, Tattersall argues. In the same way that early birds developed feathers before they could fly, we had the mental tools for complex language before we developed it.

We started with language-like symbols as a way to represent the world around us, he says. For example, before you say a word, your brain first has to have a symbolic representation of what it means. These mental symbols eventually led to language in all its complexity and the ability to process information is the main reason we are the only hominin still alive, Tattersall argues.

It’s not clear exactly when speech evolved, or how. But it seems likely that it was partly driven by another uniquely human trait: our superior social skills.

Apa bedanya dengan simpanse?

Chimpanzees know what others know and what others can see, but not what others believe. Because Sally didn’t see Anne move the marble, she will have a “false belief” that the marble is still in the basket. Most 4-year-olds can grasp this, and say that Sally will look in the basket. They know the marble is not there, but they also understand that Sally is missing the key bit of information.

Chimps can knowingly deceive others, so they understand the world view of others to some extent. However, they cannot understand others’ false beliefs. In a chimpanzee version of the Sally-Anne task, researchers found that they understand when a competitor is ignorant of the location of food, but not when they have been misinformed. Tomasello puts it like this: chimpanzees know what others know and what others can see, but not what others believe.

We are unique in the level of abstractness with which we can reason about others’ mental states

Just look around you, Tomasello says, “we’re chatting and doing an interview, they (chimps) are not.”

We have our advanced language skills to thank for that. We may see evidence of basic linguistic abilities in chimpanzees, but we are the only ones writing things down.

We tell stories, we dream, we imagine things about ourselves and others and we spend a great deal of time thinking about the future and analysing the past.

We have a fundamental urge to link our minds together

Kaitannya dengan Evolusi

Apa itu evolusi?

Tahun 1859, Darwin memublikasikan bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection dengan dua poin dasar. Pertama, spesies beradaptasi terhadap lingkungan-lingkungan yang berbeda seiring waktu, spesies-spesies tersebut mengakumulasikan perbedaan-perbedaan dari leluhur-leluhurnya. Darwin menyebut ini sebagai “keturunan dengan modifikasi.” Evolusi adalah keturunan dengan modifikasi. Kedua, mengenai seleksi alam, penyebab utama dari keturunan dengan modifikasi.

Darwin menamai mekanisme adaptasi evolusioner ini dengan natural selection karena lingkungan alam secara konsisten “memilih” penyebaran sifat-sifat di antara variasi sifat-sifat di populasi.

Three conditions are necessary: a mechanism for introducing variation, a consistent selection process, and a mechanism for preserving and reproducing the selected variation. In what follows we shall look for these three ingredients at a variety of levels. (DONALD CAMPBELL, BVSR, P. 92)

Itu, kan, cuma teori!

Dalam sains, sebuah teori diartikan secara berbeda. Pada penggunaan sehari-hari, kata teori sering digunakan untuk spekulasi yang tidak diuji. Dalam ranah sains, teori merujuk pada cakupan yang lebih luas dari sebuah hipotesis. Teori merupakan penjelasan umum yang kemudian dapat menjadi landasan untuk kemunculan hipotesis-hipotesis teruji yang baru. Pada akhirnya, para ilmuwan akan memodifikasi atau bahkan menolak teori sebelumnya jika riset baru secara konsisten menghasilkan hasil-hasil yang tidak cocok.

Seleksi Buatan, Seleksi Alam, dan Adaptasi

  1. Seleksi buatan: manusia memodifikasi spesies-spesies lain antargenerasi dengan memilih dan membiakkan individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan.
  2. Seleksi alam:
    • Seleksi alam adalah sebuah proses di mana individu-individu yang memiliki sifat-sifat turunan dapat bertahan hidup dan bereproduksi dengan tingkatan yang lebih tinggi dari individu-individu lainnya. Hal ini disebabkan karena sifat-sifat yang dimilikinya.
    • Seiring waktu, seleksi alam dapat meningkatkan frekuensi dari adaptasi-adaptasi yang diharapkan di suatu lingkungan.
    • Jika suatu lingkungan berubah, atau jika individu-individu berpindah ke sebuah lingkungan baru, seleksi natural mungkin menghasilkan adaptasi di lingkungan-lingkungan baru tersebut, terkadang memunculkan spesies baru.

Poin penting:

  1. Meskipun seleksi alam muncul melalui interaksi-interaksi antara organisme-organisme dan lingkungannya, individu-individu tidak berevolusi.
  2. Seleksi alam dapat memperkuat atau mengurangi hanya sifat-sifat yang berbeda di antara individu-individu pada sebuah populasi. Jadi, meskipun suatu sifat dapat diturunkan, kalau semua individu-individu dalam populasi tersebut identik secara genetis untuk sifat tersebut, maka evolusi oleh seleksi alam tidak dapat terjadi.
  3. Faktor lingkungan beragam dari satu tempat ke tempat lainnya dan seiring waktu.

Salah Kaprah Pemahaman

Dari tulisan Glenn & Dhia berjudul “Berbagai Pandangan Keliru tentang Teori Evolusi” di Zenius Blog:

  1. Jika proses evolusi terjadi pada satu spesies, tidak seluruh spesies tersebut akan berubah menjadi spesies yang baru. Contoh: evousi pada anjing
  2. Ilustrasi evolusi yang salah.
  3. Teori evolusi tidak pernah menyatakan bahwa kera berevolusi menjadi manusia, kera itu bukan spesies tapi suatu kelompok besar.
Evolusi pada anjing.
Ilustrasi evolusi yang salah kaprah.
Ilustrasi evolusi yang lebih benar.

Apakah kita, sebagai binatang, telah berhenti ber-evolusi?

Diambil dari kesimpulan “Has Human Evolution Stopped?” tulisan Alan R. Templeton, Ph.D:

Has human evolution stopped? The answer is a definitive no. The only way to truly stop any biological organism from evolving is extinction.

Penjelasan oleh Dr. Ian Rickard pada artikel “Are humans still evolving?” di BBC Science Focus:

At first, there would appear to be good reason to suspect that evolution due to natural selection has now come to a halt.

Following industrialisation and the benefits gained from better medical knowledge and improved infrastructure, many populations around the world have gone through something called the ‘demographic transition’.

This phenomenon is characterised by infants becoming more likely to survive to adulthood, adults living longer, and a reduction in fertility rates.

However, natural selection requires that some individuals survive, thrive and multiply whereas others don’t – it needs variability. It has been argued that the demographic transition removes the variability on which natural selection depends.

Yet it is incorrect to say that humans as a whole must not still be evolving because of this, as child mortality is unfortunately still significant in many places. Despite some fantastic progress in recent decades, there are still 30 countries, mostly in sub-Saharan Africa, with under-five mortality rates of more than 5 per cent (UN 2015 figures).

Psychological essentialism dan promiscuous teleology

Didasarkan pada tulisan Nathalia Gjersoe berjudul “Evolution makes scientific sense. So why do many people reject it?” di The Guardian. Kalau evolusi memang secara saintifik masuk akal, kenapa banyak yang menolaknya? Hal ini terjadi karena adanya natural human bias pada anak-anak. Ditambah lagi, banyak kesalahpahaman mengenai evolusi pada murid-murid, bahkan guru-guru sains.

Developmental psychologists have identified two cognitive biases in very young children that help to explain the popularity of intelligent design. The first is a belief that species are defined by an internal quality that cannot be changed (psychological essentialism). The second is that all things are designed for a purpose (promiscuous teleology). These biases interact with cultural beliefs such as religion but are just as prevalent in children raised in secular societies. Importantly, these beliefs become increasingly entrenched, making formal scientific instruction more and more difficult as children get older.


Kesimpulannya, manusia termasuk binatang. Selain itu, manusia juga masih terus ber-evolusi. Manusia tidak sespesial itu. Tahapan evolusinya belum berakhir. Pemikiran yang melandasi berakhirnya evolusi manusia biasanya didasarkan pada pernyataan bahwa keadaan manusia saat ini sudah dari sananya begitu dan tidak akan mengalami perubahan lagi (psychological essentialism). Pandangan selanjutnya adalah bahwa desain manusia memiliki tujuan akhir, tujuan yang sempurna (promiscuous teleology).

Tulisan ini hanya berisi rujukan-rujukan ke artikel yang ditaut. Bagian pendapat pribadi diawali dengan judul “Pendapatku”. Di luar pendapat pribadi, segala tulisan menjadi tanggungjawab penulisnya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s